Telolet
atau Sholawat
Saat ini di Indonesia sedang populer
fenomena “Om Telolet Om”. Bahkan di suatu daerah yang masih terbilang pelosok
pun fenomena tersebut sangat populer. Apalagi di hari-hari libur seperti ini, dari
kalangan anak-anak sampai pemuda sekalipun berramai-ramai menunggu truk ataupun
bus yang melintasi jalan raya sambal memegang kertas yang berukuran lumayan
besar bertuliskan “Om Telolet Om”. Ketika kendaraan lewat mereka mengangkat
kertas tersebut sambal melambai-lambaikan tangan dan berkata “Om Telolet Om”,
ketika kendaraan membunyikan klaksonnya mereka akan sangat bahagia dan tertawa
girang. Entah apa sensasi tersendiri yang dapat membuat mereka bahagia.
Fonomena ini juga terjadi di Tegalrejo, Jawa Tengah.
Suatu siang, di sebuah rumah di
lingkungan pondok pesantren terdengar percakapan antara ibu dan anak.
“Sri, Didin ke mana, sudah sejak
pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” Tanya Bu Janah.
“Mas Didin pergi bersama
teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Mbok “ jawab
Sri.
“Oalah, Din, Telolet ki panganan
opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat. Bocah kok
dibilangin ngeyel. Nanti kalo ada apa-apa gimana. Pake ya mesti marah-marah dan
ndak mau ngurusin.” Bu Janah mulai mencemaskan anak laki-lakinya.
“Ya berdoa saja supaya tidak ada
apa-apa to, Mbok. Nanti kalo Mas Didin sudah pulang kita nasehati lagi.” Jawab Sri
menenangkan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan
pintu, “Tok..tok..tok..”
“Wahhh, itu mesti Mas Didin, biar
saya saja yang membukakan pintu.” Sri bergegas membukakan pintu, dan Bu Janah
mengikuti di belakangnya.
“Ealaaaah Le, kamu kok ya dibilangin
Mbok kok ndak nurut-nurut. Mbok ya sudah main teloletnya. Nanti nek ada apa-apa
kepiye cah bagus.” Bu Janah rupanya sangat mencemaskan anaknya.
“Alah, Mboke ki gaktau enaknya main
telolet ya diam saja. Gak usah banyak komentar.” Didin justru balik memarahi Bu
Janah, Bu Janah hanya terdiam mendengar jawaban ketus dari anaknya.
“Mas, kalo ngomong sama Mbok yang
sopan bisa to?” Sri tampak emosi melihat ibu nya disakiti perasaannya.
Satu jam kemudian, setelah makan
siang Didin langsung menuju jalan raya lagi untuk main telolet. Karena
tergesa-gesa ia sampai lupa tidak sholat dzuhur.
Sesampainya di jalan raya, Didin dan
teman-teman asik bermain telolet. Dan sampai pada suatu saat, truk yang
dimintanya membunyikan klakson tidak
membunyikan klakson, karena kesal ia turun ke jalan dan menendang truk
tersebut. Tanpa disadari di belakangnya ada mobil yang melaju kencang, mobil
itu menabraknya, tubuhnya terhempas sampai ke trotoar. Teman-temannya membawa
Didin ke klinik pondok pesantren.
Setelah beberapa menit, Bu Janah
datang dan memeluk anaknya. Didin langsung meminta maaf dan berjanji tidak akan
mengulanginya lagi. Ia telah merasakan dampak bahayanya bermain telolet di
jalan raya. Ia juga menyesal tidak menghiraukan nasehat ibunya selama ini.
Setelah seminggu sakit, Didin sudah
bisa berjalan normal kembali. Ketika itu ia berpamitan kepada ibunya.
“Mau kemana lagi, Le? Kamu itu baru
aja sembuh.” Bu Janah cemas anaknya akan mengulangi kesalahan lagi.
“Tenang saja Mbok, saya mau ke
masjid ikut sholawatan disana. Karena seminggu lagi akan diadakan lomba hadrah
di Alun-Alun.” Jawab Didin dengan senyumannya.
“Alhamdulillah, Mbok bangga sama
kamu. Hati-hati di jalan ya, jangan gojeg di jalan lagi.” Bu Janah mengantar
anaknya sampai ke depan pintu.