Rabu, 04 Januari 2017

Cerpen Fina

Telolet atau Sholawat

            Saat ini di Indonesia sedang populer fenomena “Om Telolet Om”. Bahkan di suatu daerah yang masih terbilang pelosok pun fenomena tersebut sangat populer.  Apalagi di hari-hari libur seperti ini, dari kalangan anak-anak sampai pemuda sekalipun berramai-ramai menunggu truk ataupun bus yang melintasi jalan raya sambal memegang kertas yang berukuran lumayan besar bertuliskan “Om Telolet Om”. Ketika kendaraan lewat mereka mengangkat kertas tersebut sambal melambai-lambaikan tangan dan berkata “Om Telolet Om”, ketika kendaraan membunyikan klaksonnya mereka akan sangat bahagia dan tertawa girang. Entah apa sensasi tersendiri yang dapat membuat mereka bahagia. Fonomena ini juga terjadi di Tegalrejo, Jawa Tengah.
            Suatu siang, di sebuah rumah di lingkungan pondok pesantren terdengar percakapan antara ibu dan anak.
            “Sri, Didin ke mana, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” Tanya Bu Janah.
            “Mas Didin pergi bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Mbok “ jawab Sri.
            “Oalah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat. Bocah kok dibilangin ngeyel. Nanti kalo ada apa-apa gimana. Pake ya mesti marah-marah dan ndak mau ngurusin.” Bu Janah mulai mencemaskan anak laki-lakinya.
            “Ya berdoa saja supaya tidak ada apa-apa to, Mbok. Nanti kalo Mas Didin sudah pulang kita nasehati lagi.” Jawab Sri menenangkan.
            Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, “Tok..tok..tok..”
            “Wahhh, itu mesti Mas Didin, biar saya saja yang membukakan pintu.” Sri bergegas membukakan pintu, dan Bu Janah mengikuti di belakangnya.
            “Ealaaaah Le, kamu kok ya dibilangin Mbok kok ndak nurut-nurut. Mbok ya sudah main teloletnya. Nanti nek ada apa-apa kepiye cah bagus.” Bu Janah rupanya sangat mencemaskan anaknya.
            “Alah, Mboke ki gaktau enaknya main telolet ya diam saja. Gak usah banyak komentar.” Didin justru balik memarahi Bu Janah, Bu Janah hanya terdiam mendengar jawaban ketus dari anaknya.
            “Mas, kalo ngomong sama Mbok yang sopan bisa to?” Sri tampak emosi melihat ibu nya disakiti perasaannya.
            Satu jam kemudian, setelah makan siang Didin langsung menuju jalan raya lagi untuk main telolet. Karena tergesa-gesa ia sampai lupa tidak sholat dzuhur.
            Sesampainya di jalan raya, Didin dan teman-teman asik bermain telolet. Dan sampai pada suatu saat, truk yang dimintanya membunyikan klakson  tidak membunyikan klakson, karena kesal ia turun ke jalan dan menendang truk tersebut. Tanpa disadari di belakangnya ada mobil yang melaju kencang, mobil itu menabraknya, tubuhnya terhempas sampai ke trotoar. Teman-temannya membawa Didin ke klinik pondok pesantren.
            Setelah beberapa menit, Bu Janah datang dan memeluk anaknya. Didin langsung meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ia telah merasakan dampak bahayanya bermain telolet di jalan raya. Ia juga menyesal tidak menghiraukan nasehat ibunya selama ini.
            Setelah seminggu sakit, Didin sudah bisa berjalan normal kembali. Ketika itu ia berpamitan kepada ibunya.            
            “Mau kemana lagi, Le? Kamu itu baru aja sembuh.” Bu Janah cemas anaknya akan mengulangi kesalahan lagi.
            “Tenang saja Mbok, saya mau ke masjid ikut sholawatan disana. Karena seminggu lagi akan diadakan lomba hadrah di Alun-Alun.” Jawab Didin dengan senyumannya.

            “Alhamdulillah, Mbok bangga sama kamu. Hati-hati di jalan ya, jangan gojeg di jalan lagi.” Bu Janah mengantar anaknya sampai ke depan pintu.

Minggu, 04 Desember 2016

Iklan

Assalamualaikum...
Selamat siang blogger :) 
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas secara singkat mengenai iklan. 

A. Definisi Iklan

Iklan merupakan informasi yang isinya ditujukan kepada khalayak ramai dengan tujuan membujuk supaya tertarik pada barang/jasa yang ditawarkan.

Dengan kata lain, iklan memberitahu kepada masyarakat mengenai barang dan jasa yang dijual, dipasang di media massa. Iklan sangat beragam, tidak hanya sekedar menawarkan barang dan jasa, tetapi juga ada iklan berupa lowongan pekerjaan, suatu kegiatan, dll.

B. Struktur Iklan

1. Orientasi
2. Tubuh iklan
3. Justifikasi (putusan/alasan)

C. Media Iklan

1. Cetak          : koran, tabloid, majalah, jurnal, katalog, kalender, brosur, pamflet, poster.
2. Elektronik  : TV, radio, internet, domain
3. Luar ruang : billboard, baliho, neon box, spanduk, 3D.

D. Jenis-Jenis Iklan

1. Iklan cetak : dipublikasikan dengan media cetak
2. Iklan baris : 3-4 baris, luasnya 1 kolom
3. Iklan kolom : dilengkapi gambar, simbol, lambang
4. Iklan advertorial : dikemas seperti berita
5. Iklan display : gambar dan hiasan lebih besar dari iklan kolom
4. Iklan elektronik :menggunakan media elektronik

Masih banyak lagi jenis-jenis iklan yang ada. Pada kesempatan kali ini, saya akan memberikan salah satu contoh iklan yang telah saya buat.

Contoh Iklan Cetak



Senin, 14 November 2016

Peringatan HUT SMA Negeri 2 Magelang


Pada hari Minggu, 16 Oktober 2016 di SMA Negeri 2 Magelang daidakan jalan santai dan lomba menghias tumpeng dalam rangka memperingati HUT SMA Negeri 2 Magelang yang ke-37 tahun. Acara ini diselenggarakan oleh pengurus OSIS dan diawasi oleh MPO.
            Hari Minggu seluruh warga SMA Negeri 2 Magelang diwajibkan hadir pada acara tersebut pada pukul 06.30 WIB. Banyak stand-stand makanan dan minuman di SMA Negeri 2 Magelang. Pembukaan acara tersebut dimulai dengan adanya jalan santai. Jalan santai dimulai pada pukul 07.30 WIB dengan rute yang sudah ditentukan oleh pengurus OSIS. Setelah peserta jalan santai tiba di SMA Negeri 2 Magelang terdapat hiburan musik dari band-band yang beranggotakan siswa siswi SMA Negeri 2 Magelang. Hiburan musik juga diselengi dengan pembagian doorprize. Para peserta terlihat antusias dalam mencocokan nomor kupon ketika MC membacakan nomor kupon yang beruntung.
            Sambil berjalannya pembagian doorprize, pada pukul 08.00 WIB lomba menghias tumpeng dimulai. Lomba menghias tumpeng diadakan di kelas 11 IPA 1 sampai 11 IPA 3. Peserta lomba menghias tumpeng adalah perwakilan siswa setiap kelas yang terdiri dari 2 siswa putrid an 1 siswa putra. Bahan utama yang digunakan dalam menghias tumpeng adalah wortel dan timun. Para peserta diberi waktu 1 jam untuk menyelesaikan menghias tumpeng. Para siswa sangat antusias dalam penghiasan tumpeng. Setiap ruangan lomba dijaga oleh panitia OSIS dan 2 orang juri.

            Ketika diwawancarai, Reza selaku ketua panitia mengatakan “Acara jalan santai dan lomba menghias tumpeng berjalan dengan lancer dan meriah. Tetapi masih ada acara yang bakalan lebih seru lagi yaitu Maganza Festival dan pensi. Jangan lupa datang ya!”.

Kamis, 03 November 2016

Biografi Ibu
*ibu menggunakan jaket pink

            Ibu merupakan sosok yang sangat saya banggakan dan saya hormati. Pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan biografi singkat mengenai ibu saya. Ibunda saya bernama Yati Rochayati. Ibu lahir di Magelang, 18 Juni 1975. Ibu lahir dari keturunan Sunda, ayah beliau bernama Soewarso yang berasal dari Ciamis, sedangkan ibu beliau bernama Qoyimah yang berasal dari Randu Dongkal. Ibu merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ibu memiliki dua kakak laki-laki, tiga adik laki-laki dan satu adik perempuan.
            Semasa kecil ibu dibesarkan di Magelang. Setelah ayahnya membuka usaha di Magelang, ibu dan keluarganya mulai menetap di Magelang. Akan tetapi mereka sering sekali berkunjung ke Ciamis. Ibu mengawali pendidikannya di TK Pertiwi 1, letaknya tidak jauh dari rumah. Nenekku mengatakan bahwa sejak kecil ibu adalah sosok yang pemberani.
            Setelah lulus dari TK Pertiwi 1, ibu melanjutkan pendidikan di SD Negeri Rejowinangun Selatan 1. Letaknya juga tidak jauh dari rumah. Nenekku mengatakan setelah ibu duduk di bangku kelas 1 ibu rajin sekali belajar, sehingga ibu menjadi juara kelas. Hal tersebut berlanjut sampai kelas 6 SD.
            Setelah 6 tahun mengemban pendidikan di SD, ibu melanjutkan pendidikannya di MTs Negeri Magelang. Ketika itu ibu sering mengikuti perlombaan cerdas cermat antar sekolah. Pada masa ini juga ibu mulai menemukan hobi barunya, yaitu memasak. Pada saat itu ibu sering membantu nenek memasak untuk karyawan. Rasa penasaran ibu dengan berbagai resep masakan mulai bermunculan, lalu ibu membeli buku resep dan mempraktikannya sepulang sekolah. Ibu mencoba berbagai resep masakan selama berhari-hari dan selalu berhasil. Ibu memang orang yang tekun.
            Lulus dari MTs Negeri beliau melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 5 Magelang. Di bangku SMA prestasinya semakin meningkat. Ibu semakin giat belajar. Akan tetapi setelah lulus dari SMA ibu memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Magelang saja. Saat itu banyak yang dipertimbangkan oleh ibu, ibu memiliki enam saudara yang juga pendidikannya masih dibiayai oleh kakek.
            Kendala tersebut tidak mematahkan semangat ibu. Ibu melanjutkan kuliah di Universitas Tidar Magelang fakultas ekonomi. Di sanalah ibu bertemu ayahku. Ayahku bernama Yuswinto. Setelah lulus dan bekerja mereka menikah pada tahun 1998. Mereka menetap di Tidar Krajan. Saat itu ibu hanya menjadi ibu rumah tangga dan melahirkanku pada 24 Desember 1998.
            Pada tahun 2005 ibu memutuskan untuk pindah ke Palembang agar berdekatan dengan ayah yang selalu ditugaskan di Pulau Sumatra. Saya dan ibu tinggal berdua selama ayah dinas. Saat itu ibu mulai berkarya untuk mencoba resep-resep baru. Banyak pesanan yang diterima ibu saat itu.
            Pada tahun 2011 ibu melahirkan seorang anak perempuan lagi, adikku diberi nama Tara Janeeta Ardi Ningrum.
            Pada tahun 2013 kondisi keluarga sangat kacau karena ayah ditipu oleh rekan bisnisnya. Saat itu ibu masih setia mendampingi ayah di Palembang. Setelah kelulusanku ayah mengirimku untuk bersekolah di Magelang. Tidak lama setelah itu ayah, ibu dan adik menyusulku dan menetap di Magelang. Hingga saat ini kami menetap di Magelang.
            Ibuku merupakan sosok yang sangat aku kagumi. Selain karena ketekunannya dan kerajinannya, ibu juga merupakan sosok wanita yang sangat tegar dan ikhlas. Hal tersebut terlihat ketika ayahku sangat terpuruk ibu berusaha untuk selalu ikhlas dan tenang di hadapan anak-anaknya. Ibu selalu mengatakan padaku “Kak, kejarlah ilmu setinggi mungkin. Banggakan ayah dan ibu.”, hal itu yang menjadi semangat belajarku saat ini.